Hanya Sekedar Isi Hatiku
Tanganku
tergerak menulis sebuah kisah dari dalam mimpiku yang mungkin tak akan pernah
terwujud, fantasi yang bermekaran layaknya bunga merah yang kamu genggam. Entah
mengapa hari ini aku terbangun lebih cepat dari biasanya dan segala sesuatu
tentangmu berangsur menjadi nyata.
Kamu
itu pagi dan aku malamnya, semuanya sama yang berbeda jiwanya. Aku yang susah
cinta dan aku pula yang tidak bisa mencintaimu dengan benar. Terimakasih untuk
kehadiranmu walaupun sekarang kita bisu. Terimakasih pernah memilih untuk menyapaku
, wahai belahan jiwa.
Dan entah mengapa malam
ini aku begitu merindumu. Rasanya batinku seperti terkoyak oleh susunan kata “Rindu”
yang terus menjadi belati tajam di hidupku. Tak terbayangkan setelah patah
hatiku yang begitu berat karenanya justru kehadiranmu yang menjadi penglipur
lara bagi sang hati yang hancur dan inti jiwa yang meronta.
Benar adanya bahwa
kamu tidak bermaksud begitu, membuatku jatuh hati dikala sakitku yang menjadi
karena dia yang melemahkan jiwaku yang sebelumnya kokoh bak pintu gerbang
kerajaan. Karenanya aku mungkin menjadi seoraang yang antipati bagi rasa cinta,
namun karenamu aku bisa merasakan kejutan di dadaku lagi. Begitu kencang suara
di dalam dada bagai genderang perang yang bertalu – talu.
Bagiku, kamu adalah
Psyche yang mampu meluluhkan Cupid. Tapi memang sebuah hiperbola yang seperti
itu saja yang mungkin aku bisa. Aku tak kuasa menahan sebuah kerinduan yang
selalu menderu ingin kamu.
Aku yang rapuh
ini tidak layak untuk seorang dewi sepertimu tapi aku hnya ingin memantaskan
diriku untukmu, untuk apa yang akan terjadi antara aku dan kamu. Kamu begitu
bersinar seperti permata yang tiada duanya dimataku. Aku yang egois ini hanya
bisa bermain kata, berjuang semampuku dan itu selalu apa adanya.
Setiap percakapan
kita yang sederhana, aku tak akan melupakannya sedikitpun. Semua membekas pada sanubari
yang sebelumnya tercemar begitu banyak api pembalasan yang mungkin takkan
pernah hilang dan ternyata lenyap karenamu.
Entahlah, aku pun
tak paham akan diri ini yang tiba – tiba mencurahkan isi hatiku pada dunia yang
tanpa masalahku saja sudah bermasalah sendiri, begitu kan? Aku belum dewasa
sama sekali, mungkin begitu ataupun tidak. Semuanya tergantung mata kalian
semua yang melirik kearah curahan hatiku ini.
Rasnya gelisah untuk suatu alasan yang tak
spesifik. Resah, rasanya jiwaku mungkin benar – benar sudah dikutuk. Tenggelam,
terhanyut, terapung, dan terumbang aku sudah cukup biasa akan hal itu. Aku merasa
hanya bisa mengandalkan seutas tali tak terlihat yang menghubungkan kita
berdua. Benar, sebuah jaringan internet, itupun apabila punyamu tidak terputus.
Aku berada di
tahap tidak ingin kehilangan kamu yang tiada mampu ku takar keanggunannya. Nyatanya
aku belum bisa berbuat begitu jauh untukmu, aku belum pantas. Belum bisa
menggapaimu, iya betul hatimu. Aku ingin ragamu menjadi milikku yang hina ini,
namun akupun lebih ingin menguasai intisarimu, saripatimu.
K.As
Komentar
Posting Komentar