Hanya Sekedar Isi Hatiku
Tanganku tergerak menulis sebuah kisah dari dalam mimpiku yang mungkin tak akan pernah terwujud, fantasi yang bermekaran layaknya bunga merah yang kamu genggam. Entah mengapa hari ini aku terbangun lebih cepat dari biasanya dan segala sesuatu tentangmu berangsur menjadi nyata. Kamu itu pagi dan aku malamnya, semuanya sama yang berbeda jiwanya. Aku yang susah cinta dan aku pula yang tidak bisa mencintaimu dengan benar. Terimakasih untuk kehadiranmu walaupun sekarang kita bisu. Terimakasih pernah memilih untuk menyapaku , wahai belahan jiwa. Dan entah mengapa malam ini aku begitu merindumu. Rasanya batinku seperti terkoyak oleh susunan kata “Rindu” yang terus menjadi belati tajam di hidupku. Tak terbayangkan setelah patah hatiku yang begitu berat karenanya justru kehadiranmu yang menjadi penglipur lara bagi sang hati yang hancur dan inti jiwa yang meronta. Benar adanya bahwa kamu t...